-
Catatan 31 Mei 2012
Penutupan bulannya dimulai dengan bersepeda di pagi hari. Pergi ber-7 bersama teman seangkatan dengan rute dari Simpang Dago menuju Warung Bandrek. Gowesnya dimulai sekitar pukul 8 pagi, dengan diselingi berhenti beberapa (baca: lebih dari 4) kali, akhirnya sampai juga ditempat tujuan pukul 10.
Di tempat itu, akhirnya kita duduk bercengkrama, berbicara seperti yang lalu-lalu, dan tertawa seperti yang sudah-sudah.
Gorengan, Indomie telur, dan (tentu) Bandrek ada di meja untuk dinikmati. Kebetulan, salah satu dari kita sedang berulang tahun, si Ketua Angkatan, Paundra, bersedia membagi rezekinya untuk kita-kita yang lain. Terimakasih, sob! Dan selamat juga tentunya. Sekitar 40 menit berlalu, sajian sudah berpindah ke dalam perut, akhirnya kita berangkat pulang.
Hari ini Surabaya juga merayakan hari jadinya, yang ke-719.
Selepas isya, membuka Twitter dan melihat tulisan “AKU AREK SUROBOYO #suroboyo719” di timeline, mengingatkan saya untuk melakukan hal yang serupa. Ceritanya, sehari sebelumnya beredar himbauan untuk menuliskan kalimat itu di Twitter pada pukul 7:19 malam, tujuannya adalah menjadikannya Trending Topic World-Wide (TTWW). Tidak sampai 20 menit dari waktu yang disebutkan sebelumnya, kalimat yang saya kutip tersebut sudah ada di urutan pertama pada TTWW, dan masih pada koridor yang sama, “#suroboyo719” ada di urutan ke-5.
Tentang tujuan bersama dan kesamaan.
Di atas saya menuliskan tujuannya adalah menjadikan sebagai TTWW. Ya, karena memang Twitter memfasilitasi untuk itu, mengapresiasi bentuk kuantitas, lalu mengkonversi menjadi 2 pasang alfabet-dobel itu. Pelakunya bertujuan seperti itu, dan yang menyebabkan terjadinya kenaikan kuantitas kalimat tersebut adalah arek-arek Suroboyo. Manusia-manusia yang lahir di Surabaya dan menetap di sana, lahir di Surabaya namun sedang merantau (seperti saya), dari luar kota dan sedang hidup di Surabaya, atau seorang Indonesia yang ingin nama kota di dalamnya (bisa) dikenal di dunia. Semuanya mungkin.
Kembali ke cerita bersepeda. Saat jalanan menanjak, saat sepeda berjalan selambat-lambatnya; saat posisi rantai pada gir depan ada di diameter terkecil, dan ada di diameter terbesar pada gir belakang, melihat pesepeda yang datang dari arah berlawanan -pesepeda itu meluncur, memanfaatkan gaya gravitasi yang ada- membuat ada semangat tersendiri. Selain karena saya tahu perjalanan pulang saya bakal dibantu dengan gaya tersebut, senyum dan sapaan pesepeda itulah alasannya. Atas dasar kesamaan, bersepeda untuk mencari keringat, juga mencari udara segar. Ketika perjalanan turun (pulang), di tiap papasan, saya pastikan ada senyum dan sapa.
Mungkin seperti itu yang perlu kita lakukan dalam melihat sudut pandang manusia lainnya. Untuk mencari tujuan bersamanya. Sebisa mungkin.
-
Sabtu.
Dan akhirnya jam menunjukkan angka 0 kembar. Selesai sudah hari dengan label Jumat, 18 Mei 2012.
Kemarin itu harinya Papa dan Mama. Mengingat hal yang pernah mereka lalui, 27 tahun yang lalu.
Sekali lagi, selamat deh ya.
-
DSC_0380 | Dari bangku pembonceng.
Akhirnya kembali ke Bandung, udah dari hari Minggu sih. Merencanakan seminggu untuk sedikit melepas rindu di kampung halaman, kini saatnya melanjutkan tugas -yang pake embel-embel akhir- di Kota Kembang ini.
Jadi, ini salah satu penampakannya. Jalan yang saya bilang keren, yang saya favoritkan.
Berangkat dari Surabaya di jam 2 dini hari, sampai di ruas jalan ini sekitar jam 6 pagi. Pengalaman barunya, saya berboncengan dengan papa naik sepeda motor. Beda rasanya. Sangat.
Pantat panas dan memaksa untuk istirahat tiap 2 jam perjalanannya. Dingin malam benar-benar dingin, pun untuk panasnya siang yang sungguh panas. Seringai orang di sekitar terlihat lebih jelas. Dan khusus untuk ruas jalan ini, penghubung Rembang dan Lasem, tercium asin juga amisnya.
Seru juga. Nanti cerita panjangnya menyusul.
Dengan mengatakan bahwa ada urusan di Bandung dan juga di Jakarta, papa berbohong. Nyatanya, dia cuma mencari alasan agar saya bisa menerima beliau untuk ikut bersepedamotor-ria. Dasar.
-
Jalan Raya Pos.
Post ini seperti jadi sambungan dari yang sebelumnya, yang ini juga ini, ga jelas juga hubungan antar postnya ini ada di mana. Sejak waktu itu tiba-tiba jadi sangat penasaran, karena udah baca ini buku jadi ngerasa lengkap, karena jadi cukup tau cerita tentang jalan ini.
Buku ini sempet dibaca sekilas di Kineruku, sampe akhirnya baru-baru ini nemuin ada di Togamas -dan dibeli.
Berisikan tentang sejarah pembangunan jalan raya ini. Sajiannya dibagi per daerah yang dilewati, dengan diceritakan pula keunikan lokal masa lalu daerah tersebut. Beberapa isinya pernah didengar, pernah diceritakan oleh guru SD. Waktu itu sejarah tidak semenarik seperti yang sekarang saya rasakan. :D
Sepenggal dari isi buku:
Jalan Raya Pos Rembang-Lasem, membentang menyusuri pantai. Muara Kali Karanggeneng di bagian barat kota Rembang menjadi tempat bersandar perahu-perahu kayu antar-pulau. Bagian depan dan belakangnya dipahat ragam bunga dan dedaunan berwarna-warni.
Ah, jalan itu! Jalan yang memang saya klaim sebagai jalan raya terfavorit. Tenang, para pemirsa *kaya ada aja*, nanti bakal ditunjukkan (dengan foto -berarti nunggu pulang kampung) ruas jalan yang dimaksudkan.
-
Dua Belas Menit Delapan Detik
Itu durasi berbincang sama Mama, via jalur GSM. Baru saja.
Karena saya malu dan masih gengsi, saya tuangkan di sini saja. Ini kalimat penutup yang tadi cuma saya katakan dalam hati.
Aku sayang mama.
-
Soal nomor 48.
Dari berkas Ujian Sekolah Bahasa Indonesia.
Semoga lancar untuk yang akan Ujian Nasional tingkat SMP esok, dimulai dengan mata pelajaran yang sama sesuai di foto.
Cat: Dijawab B oleh Zuyyin. Harusnya A, kan ya? *nanya*
-
Icebreaking.
Biarkan semua jadi hening sebentar saja, semoga menjadi mengerti, jika diri ini terlalu banyak bicara.
Beri kesempatan untuk berhenti sejenak, semoga menjadi sama melihat, betapa bodohnya jika terburu-buru.
-
CIKASO
-
Langit Malam Ini
Jadi, siapa ini yang pesen langit bandung ga pake awan?
-
Catatan Dari Pantai
Aku pun beranjak.
Bersiap di petang, berlalu pada pekat.
Menderu pergi ke tepian hingar.
Sesaat berhenti, menyempatkan menuliskan pesan.
Mendinginnya kopi ditambah roti se-sobekan.
Titian tak halus kembali dilalui.
Menatap alam di kanan jalan.
Aku memilih untuk duduk diam kemudian bermimpi.
Mengukir tajam apa saja menjadi tujuan.
Aku kini di hamparan.
Langit masih berwarna nila dengan mataharinya di belakang sana.
Semakin kuning meninggi, semakin cerah biru.
Menjadi tenang untuk berdansa.
Aku pergi ke padang krikil.
Bertanya-tanya di bawah pohon kelapa.
Kenapa, siapa, bagaimana, dan kapan.
Tak tahu pasti bagaimana bentuk kalimat akhirnya.
Teman dari pensil yang menulis saran.
Meninggi hati merasa beruntung.
Dengan sekian percabangan yang terlihat.
Apakah benar aku ada di ujung?
____
Ujung Genteng
150312
-
Durian.
Enak ya, dek? Kakak juga suka sekali makan durian :)
110312
-
Makan Tahu (di) Sumedang.
110312





